Outdoor Partner
teman bagi pemandu kehidupan
Senin, 02 Juli 2012
Duniamu Tak Lebih dari Pikiranmu
Muhammad Sang Nabi terakhir pernah bersabda "Sesungguhnya setiap perbuatan itu bergantung niatannya" (penggalan hadits).
Jika kita renungkan kalimat di atas dapat kita temukan bahwa setiap apa-apa yang kita lakukan adalah berangkat dari apa yang kita pikirkan. Bukankah hakikat dari perbuatan kita adalah laku dari yang kita pikirkan?
Kaki kita tidak akan pernah melangkah jika otak kita tidak berpikir melangkah, mulut kita akan terdiam 10000 bahasa ketika otak kita tidak berpikir untuk bicara. Kita punya tangan, kaki, mata, telinga, hidung, kulit, dan seterusnya organ fisik yang merupakan hardware sedang softwarenya adalah pikiran.
Sebuah robot tidak akan bergerak dengan sendirinya tanpa adanya software penggerak. Demikian pula tubuh kita tidak akan bergerak jika pikiran kita tidak menghendaki bergerak.
Beda kita dengan dengan robot adalah kita berhak menentukan apa yang ingin kita programkan tanpa ada yang menghalangi sehingga kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan, sedangkan robot hanya melakukan tindakan sesuai dengan apa yang diprogramkan pembuatnya.
Pembuat robot adalah manusia. Manusia membuat robot bergerak sesuai keinginannya. Pencipta manusia adalah Allah Yang Maha Pencipta, tetapi Allah memberi kebebasan manusia begerak sesuai pikirannya.
Oleh karena itu kualitas manusia ditentukan oleh pikirannya;
Jagalah pikiranmu, ia akan jadi perkataanmu
Jagalah perkataanmu, ia akan jadi perbuatanmu
Jagalah perbuatanmu, ia akan jadi kebiasaanmu
Jagalah kebiasaanmu, ia akan jadi karaktermu
Jagalah karaktermu, ia akan jadi nasibmu
Jadi, nasib seorang manusia ditentukan dari pikirannya sendiri
Selasa, 26 April 2011
SELEMBAR DAUN TUA
Di kebun belakan rumah saya tumbuh sebatang pohon sukun, yang ketika mata saya mulai bisa melihat kehidupan, badannya sudah sebesar pelukan dua orang dewasa. Pohon sukun yang besar itu dilengkapi dengan daun-daun yang banyak jumlahnya. Diantara daun-daun yang banyak itu terdapat selembar daun yang sangat lebar dan kuat, melebihi daun-daun lainnya. Daun yang sangat besar itu diagungkan karena oleh daun-daun lain karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lain dari panasnya matahari, derasnya hujan, dan dinginnya angin malam.
Namun, seiring bertambahnya usia si daun besar, ia mulai menguning pertanda tua. Beberapa bagian tubuhnya mulai robek diterpa angin dan tergesek dahan di sekelilingnya. Keberadaannya mulai diabaikan oleh daun-daun lain, karena ia tidak lagi kuat dan melindungi. Menurut mereka, si daun besar sudah tidak dapat diandlkan lagi.
Tak lama kemudian, daun besar itu pun tak lagi kuat menahan tubuhnya bertahan bergelayut di ranting. Ia jatuh tersungkur diterpa hembusan angin yang menghantarkannya lebur di dalam tanah yang tak jauh dari pohon sukun besar itu. Tak ayal lagi, daun-daun lain sudah tidak lagi menghiraukan nasib si daun besar. Mereka seolah benar-benar telah melupakannya.
Musim kemarau pun akhirnya datang. Daun-daun di pohon sukun mulai merasa dahaga dan kehausan. Seakan kehilangan harapan untuk hidup. Pada saat mereka mulai putus asa, mereka merasakan ada air dan makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka dari dalam tanah. Mereka terheran-heran dengan keajaiban tersebut. Setelah mereka mencari-cari, mereka melihat dan menyadari bahwa daun besar yang telah mereka lupakan telah melebur di dalam tanah dan berubah menjadi humus yang memberi makanan kepada mereka. Akhirnya, dengan sari makanan dari tubuh daun besar yang terlebur dalam tanah, daun-daun lain sanggup melewati hidup mereka hingga musim hujan tiba.
Daun-daun di pohon sukun sangat menyesal karena telah melupakan teman mereka si daun besar. Sampai akhir hayatnya, si daun besar tetap mejadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.
Sahabat, akankah dalam hidup ini kita bisa menjadi seperti si daun besar? Yang berbuat kebaikan bagi sesamanya tanpa berpikir ia akan mendapat balasan dari sesamanya. Ataukah kita, akan menjadi daun-daun lain yang hanya mengingat teman ketika ia mampu menjadi pahlawan bagi kita dan melupakannya begitu saja ketika ia tak mampu lagi memberi kebaikan bagi kita.
Coba kita renungkan lebih dalam//.
Namun, seiring bertambahnya usia si daun besar, ia mulai menguning pertanda tua. Beberapa bagian tubuhnya mulai robek diterpa angin dan tergesek dahan di sekelilingnya. Keberadaannya mulai diabaikan oleh daun-daun lain, karena ia tidak lagi kuat dan melindungi. Menurut mereka, si daun besar sudah tidak dapat diandlkan lagi.
Tak lama kemudian, daun besar itu pun tak lagi kuat menahan tubuhnya bertahan bergelayut di ranting. Ia jatuh tersungkur diterpa hembusan angin yang menghantarkannya lebur di dalam tanah yang tak jauh dari pohon sukun besar itu. Tak ayal lagi, daun-daun lain sudah tidak lagi menghiraukan nasib si daun besar. Mereka seolah benar-benar telah melupakannya.
Musim kemarau pun akhirnya datang. Daun-daun di pohon sukun mulai merasa dahaga dan kehausan. Seakan kehilangan harapan untuk hidup. Pada saat mereka mulai putus asa, mereka merasakan ada air dan makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka dari dalam tanah. Mereka terheran-heran dengan keajaiban tersebut. Setelah mereka mencari-cari, mereka melihat dan menyadari bahwa daun besar yang telah mereka lupakan telah melebur di dalam tanah dan berubah menjadi humus yang memberi makanan kepada mereka. Akhirnya, dengan sari makanan dari tubuh daun besar yang terlebur dalam tanah, daun-daun lain sanggup melewati hidup mereka hingga musim hujan tiba.
Daun-daun di pohon sukun sangat menyesal karena telah melupakan teman mereka si daun besar. Sampai akhir hayatnya, si daun besar tetap mejadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.
Sahabat, akankah dalam hidup ini kita bisa menjadi seperti si daun besar? Yang berbuat kebaikan bagi sesamanya tanpa berpikir ia akan mendapat balasan dari sesamanya. Ataukah kita, akan menjadi daun-daun lain yang hanya mengingat teman ketika ia mampu menjadi pahlawan bagi kita dan melupakannya begitu saja ketika ia tak mampu lagi memberi kebaikan bagi kita.
Coba kita renungkan lebih dalam//.
Jumat, 06 Agustus 2010
KMD DOSEN MENIKMATI RAFTING
Kwarda Jawa Timur menyelenggarakan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar bagi dosen pembina pramuka yang berpangkalan di perguruan tinggi mulai 2 s.d. 7 Agustus 2010 di UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat, Lawang, Malang.
Kegiatan ini merupakan upaya Gerakan Pramuka Jawa Timur untuk mengoptimalkan Revitalisasi Gerakan Pramuka yang dicanangkan Presiden SBY 4 tahun silam. Kegiatan ini dilaksanakan dalam empat tahapan kegiatan;
1. Apersepsi , pada tahapan ini peserta diajak untuk memiliki persepsi yang sama tentang keberadaan pramuka di perguruan tinggi, seberapa pentingnya keberadaan gugusdepan di perguruan tinggi sebagai wadah untuk membentuk mahasiswa berkarakter.
2. Understanding, pada tahapan ini peserta mengeksplorasi berbagai literatur tentang kepramukaan selanjutnya membuat rumusan tentang bagaimana melakukan proses pembinaan bagi pramuka di perguruan tinggi.
3. Praktik dan Pengalaman Nyata, selanjutnya peserta memraktikkan apa yang dirumuskan melalui aktivitas nyata. Salah pengalaman nyata yang dilalui peserta yakni mengarungi jeram-jeram berbahaya sepanjang sungai Pekalen, Probolinggo melalui kegiatan RAFTING. "Ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan dalam kehidupan saya", komentar beberapa peserta. Yang tak kalah menariknya adalah peserta bersimulasi sebagai penegak dalam Ambalan, melakukan apel, berproses menempuh SKU, latihan upacara pelantikan, dan hal-hal lain berkait kehidupan pramuka penegak.
4. Refleksi dan Tindak Lanjut, pada tahapan ini peserta memberikan komentar dari apa yang sudah dilalui selama pelatihan dan menuliskan rencana-rencana yang akan dilakukan sepulang kursus.
Kursus ini dipandu oleh pelatih-pelatih Kwarda Jawa Timur di bawah komando kak Ganet Boedi Oetomo, dibantu oleh kak Yatno, kak Nyoto, kak Farida, dan Tjak Pari. Kebetulan penulis juga diberikan kepercayaan dalam mengelola kegiatan outbound.
Minggu, 11 Juli 2010
LT-4 JAWA TIMUR SEGERA DIMULAI
LT-4 PRAMUKA JAWA TIMUR SEGERA DIMULAI,
14 s.d. 18 Juli 2010 akan digelar Lomba antar Pramuka Penggalang se-Jawa Timur di Kebun Raya Purwodadi. Kemampuan, keterampilan, dan mentalitas penggalang akan diuji melalui gelar lomba dalam Lomba Tingkat dua hari lagi.
Bumi Purwodadi akan menjadi saksi kehebatan para penggalang jawa timur dalam menunjukkan bakat dan kreativitas mereka dalam bidang basic scouting skills, seni dan kebudayaan, iptek, dan kekuatan fisik mereka dalam menghadapi tantangan.
Ikuti dan saksikan gebyar LT-4 JAWA TIMUR.
14 s.d. 18 Juli 2010 akan digelar Lomba antar Pramuka Penggalang se-Jawa Timur di Kebun Raya Purwodadi. Kemampuan, keterampilan, dan mentalitas penggalang akan diuji melalui gelar lomba dalam Lomba Tingkat dua hari lagi.
Bumi Purwodadi akan menjadi saksi kehebatan para penggalang jawa timur dalam menunjukkan bakat dan kreativitas mereka dalam bidang basic scouting skills, seni dan kebudayaan, iptek, dan kekuatan fisik mereka dalam menghadapi tantangan.
Ikuti dan saksikan gebyar LT-4 JAWA TIMUR.
Senin, 18 Januari 2010
Disiplin penting. Penyeimbangnya adalah Kasih Sayang
Seorang ibu muda berniat curhat kepada ibu mertuanya sambil bersampan di danau yang biasa mereka kunjungi di akhir bulan. Ibu muda mengeluhkan anaknya yang sulit diatur, Ibu mertua mengangguk-angguk selagi ibu muda bercurhat sambil mendayung.
Lalu, ibu mertua berkata:”Anakku, sejak tadi kamu mendayung dengan tangan kiri, coba gunakan juga tangan kananmu”
Si Ibu muda menuruti permintan ibu mertuanya. Ibu mertua beseru : “Nah, sampan ini berangsur maju!. Cobalah nak, berilah nama untuk masing-masing dayung di tangan kiri dan tangan kananmu”.
Si ibu muda tertegun sejenak memikirkan nama untuk kedua dayungnya, kemudian berucap; “Yang kiri kuberi nama disiplin, yang kanan kunamai kasih-sayang”, jawab ibu muda tersipu-sipu.
Seringkali latihan pramuka diidentikkan dengan penanaman disiplin diri yang tinggi, pembinaan baris berbaris yang dilatihkan secara keras, proses pembinaan yang kadang berujung pada tindak kekerasan, dll. Tujuannya mulia, yakni membelajarkan sikap disiplin kepada adik-adik didik. Namun sangat sedikit yang pembina pramuka yang merefleksi tindakan keras tersebut sebagai bukanlah inti pembelajarannya, namun pola pembinaan yang keras dan over disiplin itu hanyalah media bagi adik-adik untuk mengembangkan potensi disiplin diri, perkembangan psikologis mereka, dan pengembangan karakter.
Mudah-mudahan dengan ilustrasi cerita di atas, pembinaan kepanduan (baca:pramuka) akan mencapai titik kesetimbangan dengan penerapan disiplin diri yang kuat, serta penanaman nilai-nilai kasih sayang sesama manusia.
Lalu, ibu mertua berkata:”Anakku, sejak tadi kamu mendayung dengan tangan kiri, coba gunakan juga tangan kananmu”
Si Ibu muda menuruti permintan ibu mertuanya. Ibu mertua beseru : “Nah, sampan ini berangsur maju!. Cobalah nak, berilah nama untuk masing-masing dayung di tangan kiri dan tangan kananmu”.
Si ibu muda tertegun sejenak memikirkan nama untuk kedua dayungnya, kemudian berucap; “Yang kiri kuberi nama disiplin, yang kanan kunamai kasih-sayang”, jawab ibu muda tersipu-sipu.
Seringkali latihan pramuka diidentikkan dengan penanaman disiplin diri yang tinggi, pembinaan baris berbaris yang dilatihkan secara keras, proses pembinaan yang kadang berujung pada tindak kekerasan, dll. Tujuannya mulia, yakni membelajarkan sikap disiplin kepada adik-adik didik. Namun sangat sedikit yang pembina pramuka yang merefleksi tindakan keras tersebut sebagai bukanlah inti pembelajarannya, namun pola pembinaan yang keras dan over disiplin itu hanyalah media bagi adik-adik untuk mengembangkan potensi disiplin diri, perkembangan psikologis mereka, dan pengembangan karakter.
Mudah-mudahan dengan ilustrasi cerita di atas, pembinaan kepanduan (baca:pramuka) akan mencapai titik kesetimbangan dengan penerapan disiplin diri yang kuat, serta penanaman nilai-nilai kasih sayang sesama manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)