Seorang ibu muda berniat curhat kepada ibu mertuanya sambil bersampan di danau yang biasa mereka kunjungi di akhir bulan. Ibu muda mengeluhkan anaknya yang sulit diatur, Ibu mertua mengangguk-angguk selagi ibu muda bercurhat sambil mendayung.
Lalu, ibu mertua berkata:”Anakku, sejak tadi kamu mendayung dengan tangan kiri, coba gunakan juga tangan kananmu”
Si Ibu muda menuruti permintan ibu mertuanya. Ibu mertua beseru : “Nah, sampan ini berangsur maju!. Cobalah nak, berilah nama untuk masing-masing dayung di tangan kiri dan tangan kananmu”.
Si ibu muda tertegun sejenak memikirkan nama untuk kedua dayungnya, kemudian berucap; “Yang kiri kuberi nama disiplin, yang kanan kunamai kasih-sayang”, jawab ibu muda tersipu-sipu.
Seringkali latihan pramuka diidentikkan dengan penanaman disiplin diri yang tinggi, pembinaan baris berbaris yang dilatihkan secara keras, proses pembinaan yang kadang berujung pada tindak kekerasan, dll. Tujuannya mulia, yakni membelajarkan sikap disiplin kepada adik-adik didik. Namun sangat sedikit yang pembina pramuka yang merefleksi tindakan keras tersebut sebagai bukanlah inti pembelajarannya, namun pola pembinaan yang keras dan over disiplin itu hanyalah media bagi adik-adik untuk mengembangkan potensi disiplin diri, perkembangan psikologis mereka, dan pengembangan karakter.
Mudah-mudahan dengan ilustrasi cerita di atas, pembinaan kepanduan (baca:pramuka) akan mencapai titik kesetimbangan dengan penerapan disiplin diri yang kuat, serta penanaman nilai-nilai kasih sayang sesama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar