Pages

Selasa, 26 April 2011

SELEMBAR DAUN TUA

Di kebun belakan rumah saya tumbuh sebatang pohon sukun, yang ketika mata saya mulai bisa melihat kehidupan, badannya sudah sebesar pelukan dua orang dewasa. Pohon sukun yang besar itu dilengkapi dengan daun-daun yang banyak jumlahnya. Diantara daun-daun yang banyak itu terdapat selembar daun yang sangat lebar dan kuat, melebihi daun-daun lainnya. Daun yang sangat besar itu diagungkan karena oleh daun-daun lain karena kekuatannya. Dialah yang dianggap pelindung bagi daun-daun lain dari panasnya matahari, derasnya hujan, dan dinginnya angin malam.
Namun, seiring bertambahnya usia si daun besar, ia mulai menguning pertanda tua. Beberapa bagian tubuhnya mulai robek diterpa angin dan tergesek dahan di sekelilingnya. Keberadaannya mulai diabaikan oleh daun-daun lain, karena ia tidak lagi kuat dan melindungi. Menurut mereka, si daun besar sudah tidak dapat diandlkan lagi.
Tak lama kemudian, daun besar itu pun tak lagi kuat menahan tubuhnya bertahan bergelayut di ranting. Ia jatuh tersungkur diterpa hembusan angin yang menghantarkannya lebur di dalam tanah yang tak jauh dari pohon sukun besar itu. Tak ayal lagi, daun-daun lain sudah tidak lagi menghiraukan nasib si daun besar. Mereka seolah benar-benar telah melupakannya.
Musim kemarau pun akhirnya datang. Daun-daun di pohon sukun mulai merasa dahaga dan kehausan. Seakan kehilangan harapan untuk hidup. Pada saat mereka mulai putus asa, mereka merasakan ada air dan makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka dari dalam tanah. Mereka terheran-heran dengan keajaiban tersebut. Setelah mereka mencari-cari, mereka melihat dan menyadari bahwa daun besar yang telah mereka lupakan telah melebur di dalam tanah dan berubah menjadi humus yang memberi makanan kepada mereka. Akhirnya, dengan sari makanan dari tubuh daun besar yang terlebur dalam tanah, daun-daun lain sanggup melewati hidup mereka hingga musim hujan tiba.
Daun-daun di pohon sukun sangat menyesal karena telah melupakan teman mereka si daun besar. Sampai akhir hayatnya, si daun besar tetap mejadi pahlawan bagi daun-daun lainnya.

Sahabat, akankah dalam hidup ini kita bisa menjadi seperti si daun besar? Yang berbuat kebaikan bagi sesamanya tanpa berpikir ia akan mendapat balasan dari sesamanya. Ataukah kita, akan menjadi daun-daun lain yang hanya mengingat teman ketika ia mampu menjadi pahlawan bagi kita dan melupakannya begitu saja ketika ia tak mampu lagi memberi kebaikan bagi kita.
Coba kita renungkan lebih dalam//.